Dimulai Dari Apa Yang Kita Lihat, Kita Dengar dan Kita Rasakan

Kegiatan menulis dapat kita mulai dari apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan di sekitar lingkungan kita. Sumber gambar: http://www.google.co.id

Bagi sebagian orang kegiatan menulis mungkin dianggap sebagai kegiatan yang sukar untuk dilakukan. Tetapi mungkin dianggap mudah bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya. Saya kira kita sependapat dengan pernyataan ini. Mudah dan sukar dilakukan itu tergantung pada kebiasaan kita melakukannya. Tentunya untuk bisa mahir atau terampil dalam kegiatan tulis-menulis, seseorang perlu membiasakan dan mencintai kegiatan ini mulai dari sekarang. Lalu, dari mana kita bisa membuat sebuah tulisan?

Kita dapat memulai membuat sebuah tulisan dari apa yang kita lihat, kita dengar dan dari apa yang kita rasakan. Misalnya Anda melihat seorang anak kecil terjatuh dari anak tangga karena kelalaian orangtuanya dan hal itu menarik perhatian Anda, tulislah itu. Atau hal menarik lainnya yang pernah atau sedang Anda lihat. Sebab dari bangun tidur hingga kita tidur lagi pada malam hari, ada sekian banyak stimulus yang ditangkap oleh indra penglihatan kita. Semuanya itu merupakan sumber bahan yang dapat kita gunakan untuk membuat sebuah tulisan atau sejenisnya (misalnya puisi).

Selain dari apa yang kita lihat, kita juga dapat memulai membuat sebuah tulisan dari apa yang kita dengar. Sesuatu hal yang kita dengar itu dapat menjadi inspirasi atau bahan yang akan kita tulis nantinya. Hal-hal tersebut bersumber dari segala aspek kehidupan kita. Sebagai contoh aspek ekonomi, misalnya Anda mendengar tentang kelangkaan BBM di daerah Anda, Anda dapat menjadikan fenomena tersebut sebagai topik yang akan Anda tulis nantinya.

Terakhir adalah kita dapat memulai membuat sebuh tulisan dari apa yang kita rasakan. Setelah kita melihat dan mendengar tentang sesuatu hal, tentu kita sebagai pribadi yang memiliki perasaan akan merasakan sesuatu dari apa yang kita lihat dan dengar tersebut. Dalam merasakan sesuatu itu, kadangkala kita juga berpikir apa, bagaimana dan seterusnya tentang hal tersebut. Oleh karena itu, apa yang kita rasakan dari sesuatu yang kita lihat dan dengar itu dapat saja menginspirasi dan mendorong kita untuk mengungkapkan perasaan kita ke dalam sebuah tulisan. Setelah itu segeralah ungkapkan perasaan Anda tersebut ke dalam sebuah tulisan dan jangan menundanya. Sebab dengan menunda akan mengurangi sedikit perasaan aslinya pada saat kita pertama kali merasakannya. Lalu tulisalah hal tersebut dengan bahasa kita sendiri.

Kunci terakhir dari tiga hal di atas adalah keinginan atau motivasi yang kuat untuk menulis. Kalau kita memiliki keinginan yang kuat untuk menulis, saya yakin kita akan mampu melakukannya dengan baik.

Lalu di mana kita dapat menulis? Kita dapat menulis di mana saja tergantung di mana kita suka. Kita dapat menulis di buku harian, koran atau surat kabar atau di webblog/situs pribadi kita. Semakin sering kita berlatih, maka lambat laun kita juga akan semakin mahir dan tentu kita akan menyenangi kegiatan tulis-menulis ini. Selamat mencoba…!

Diskusi Kelompok Dalam Kegiatan Bimbingan Klasikal

Diskusi kelompok merupakan salah satu metode yang sering digunakan dalam kegiatan bimbingan klasikal. Sumber gambar: http://www.google.co.id

Keberhasilan suatu kegiatan bimbingan tak selamanya bergantung pada penguasaan materi oleh konselor itu sendiri. Meskipun seorang konselor menguasai dengan baik disiplin ilmu dan materi yang akan disampaikannya, itu belumlah cukup tanpa mengetahui metode apa yang sesuai dengan kelompok siswa yang akan dilayaninya tersebut. Oleh karena itu seorang konselor hendaknya juga terampil dalam memilih metode yang akan digunakan dalam setiap kegiatan bimbingan, terutama dalam kegiatan bimbingan klasikal. Salah satu metode yang dapat digunakan seorang konselor dalam kegiatan bimbingan klasikalnya adalah metode diskusi kelompok. Metode ini pada umumnya sering digunakan oleh konselor dalam kegiatan layanan bimbingan klasikal.

Metode diskusi kelompok memberikan kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap peserta kelompok diskusi. Sebab dalam diskusi kelompok setiap anggota memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapatnya tentang topik yang sedang disiskusikan tersebut. Melalui diskusi kelompok ini pula para siswa memperoleh jawaban atas permasalahan yang sedang mereka hadapi. Selain itu, masing-masing pribadi di dalam kelompok juga dapat saling membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kelompok/pribadi.

Pembagian kelompok hendaknya didasarkan atas kesamaan masalah yang mereka hadapi. Misalnya dalam satu kelas ada lima orang yang sedang mengalami masalah di bidang pribadi, misalnya sulit menyesuaikan diri, nah mereka ini sebaiknya satu kelompok dalam diskusi kelompok tersebut. Demikian juga dengan siswa/i lainnya. Keberhasilan seorang konselor dalam membentuk kelompok dengan mengelompokkan para siswanya sesuai dengan klasifikasi masalah yang sedang mereka hadapi, akan membuat kegiatan layanan bimbingan klasikal tersebut menjadi lancar dan tujuannya juga akan tercapai dengan baik. Namun kenyataan di lapangan masih banyak para konselor di sekolah yang belum mampu mengenal para siswanya dengan baik. Hal ini tentu kurang menguntungkan, sebab dapat berpengaruh pada kegiatan layanan yang diberikan kepada siswa. Salah satu di antaranya adalah layanan bimbingan klasikal. Ketidakmampuan konselor dalam mengklasifikasikan para siswa sesuai dengan masalah yang dihadapinya akan membuat diskusi kelompok menjadi kurang tepat untuk digunakan, karena tidak dapat membantu salah satu atau beberapa orang dalam anggota kelompoknya untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Selain itu, hal tersebut juga membuat diskusi kelompok itu menjadi tidak fokus  dalam mendiskusikan suatu topik. Oleh karena itu seorang konselor hendaknya mengenal dengan baik siapa orang-orang yang akan dilayaninya, agar dapat menentukan metode yang sesuai dengan keadaan kondisi mereka.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.