Mengubah Kegagalan Menjadi Sebuah Keberhasilan

Gagal lagi…gagal lagi. Kata ini sering kita dengar ketika seseorang atau teman atau bahkan diri kita sendiri mengalami kegagalan, apalagi untuk hal yang sama. Ungkapan “gagal lagi” yang keluar dari mulut seseorang/teman/diri kita sendiri merupakan bentuk kekecewaan kita terhadap sesuatu yang diinginkan/diharapkan, tetapi tidak dapat dimiliki. Tetapi ungkapan kekecewaan itu apakah akan selalu diungkapkan manakala kita mengalami sebuah kegagalan? Tentu ada juga benarnya, sebab ungkapan tersebut merupakan reaksi spontanitas kita terhadap kegagalan itu sendiri. Namun lebih baik lagi kalau kita menjadikan kegagalan itu sebagai bahan refleksi dan pembelajaran yang dapat menghantarkan kita pada satu tujuan, yaitu suatu keberhasilan atau prestasi. Caranya sebenarnya mudah, yaitu dengan mengubah cara pandang kita terhadap kegagalan itu sendiri. Namun tidak semua orang bisa sampai pada keadaan ini, diperlukan kesadaran dan kemauan yang kuat untuk melakukannya.

Dalam hal ini, persepsi atau cara pandang seseorang terhadap sebuah kegagalan akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian keberhasilan atau prestasi yang diinginkannya itu. Bagi seseorang yang memandang sebuah kegagalan sebagai akhir dari segala usahanya, tentu akan mematahkan semangat daya juangnya untuk meraih keberhasilan atau prestasi itu. Biasanya orang yang seperti ini tidak mau mencoba untuk kedua kalinya karena takut akan gagal lagi. Ia juga biasanya tidak terlalu peduli dengan kegagalan yang baru saja dialaminya, sebab menurutnya sekali gagal akan tetap gagal untuk kesempatan berikutnya. Ia tidak mau merefleksikan kegagalan yang dialaminya itu dan mencoba mencaritahu penyebabnya, sebab menurutnya tindakan tersebut akan menyita waktu dan perhatiannya. Kalau boleh dikatakan, orang seperti ini adalah orang yang memiliki motivasi yang rendah untuk berhasil atau berprestasi.

Sekarang kita lihat seseorang yang memiliki persepsi positif terhadap sebuah kegagalan. Seseorang yang memandang kegagalan sebagai hal yang positif, yang dapat menghantarkannya pada sebuah prestasi, tentu akan menjadikan pengalaman itu sebagai bahan refleksi dan pembelajaran bagi dirinya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan atau menyingkirkan sejumlah penghalang yang telah membuatnya gagal, untuk mencapai sebuah prestasi dalam hidupnya. Dalam refleksinya, ia akan mencaritahu apa saja hal-hal yang telah membuat dirinya gagal. Ia tidak mudah putus asa, sebab bagi dirinya kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ia memiliki semangat yang kuat untuk mencapai cita-citanya, sehingga berbagai upaya ia lakukan untuk mengejar prestasi itu. Ia tidak malu bertanya pada orang yang telah berhasil mencapai sebuah prestasi, untuk mencari tahu rahasia suksesnya. Ia juga selalu mencoba cara-cara yang berbeda untuk memperbaiki dan menyingkirkan sejumlah hambatan yang pernah ditemuinya. Dengan kata lain, ia selalu berpikir kreatif untuk mencari pemecahan masalah dialaminya. Dan yang terakhir adalah orang yang seperti ini selalu berdoa agar dirinya mendapatkan kekuatan dan petunjuk dari Tuhan, guna mencapai keberhasilan dan prestasi dalam hidupnya. Jadi untuk apa kita menakuti kegagalan kalau ternyata kegagagalan itu bisa membuat dan menghantarkan kita pada sukses-sukses besar lainnya?

Perihal Amandus Tena Labaketoy
Aku adalah seorang manusia biasa yang ingin terus belajar sampai akhir hayatku....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: