Menanamkan Kemandirian Sejak Dini Pada Diri Anak Melalui Kegiatan Pendidikan

Menyapu adalah contoh sederhana dari kegiatan pendidikan kemandirian. Sumber: Dokumen pribadi.

Pendidikan merupakan bantuan yang diberikan orang yang sudah dewasa kepada orang yang belum dewasa dengan maksud supaya orang yang belum dewasa menjadi dewasa. Menurut Langeveld, “pendidikan meliputi semua unsur yang turut mempunyai peranan dalam pemberian bantuan pada perkembangan manusia itu menjadi orang dewasa dalam arti seluas-luasnya” (Labaketoy, 2008 : 6).

Lebih lanjut Langeveld mengatakan, bahwa “pendidikan berlangsung dalam pergaulan, yakni pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak” (Labaketoy, 2008 : 6). Anak-anak tumbuh dan berkembang pertama kali dalam lingkungan keluarga. Ayah dan ibu merupakan sosok orang dewasa dalam sebuah keluarga. Pendidikan itu sendiri bermula dari lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga anak diajar, dibimbing dan dilatih oleh ayahnya atau ibunya agar dapat menjadi pribadi yang dewasa. Kegiatan ini berlangsung dalam kehidupan anak sehari-hari ketika ia mengalami kesulitan-kesulitan tertentu yang dihadapi dalam hidupnya.

Demikian halnya dengan kemandirian pada anak, orangtua diharapkan mengajar, membimbing dan melatih anak sejak dini untuk bersikap mandiri dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan memperlakukan anak seperti ini, anak akan menjadi terbiasa dan kebiasaannya itu akan ia tunjukkan lewat perilakunya sehari-hari dalam melaksakan tugas dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, ketika ia mulai memasuki rentangan usia tertentu yang menuntut kemandirian dalam dirinya, ia sudah siap menerimanya dengan penuh tanggungjawab. Tentu hal ini tidak semuanya dapat ia lakukan dengan baik dalam praktek kehidupannya sehari-hari, mengingat ia juga memiliki sejumlah keterbatasan, sama halnya dengan kita yang sudah dewasa ini. Oleh karena itu, perhatian yang total atau yang sungguh-sunguh dari orangtua berupa mengajar, membimbing dan melatihnya, sangatlah penting demi pencapaian kemandirian anak itu sendiri sebagai persiapannya menuju pribadi yang dewasa.

Hal sederhana yang dapat dilakukan orangtua terhadap anaknya untuk membiasakannya hidup mandiri adalah dengan membiasakan anak mulai berlatih bangun tidur sendiri, menyapu rumah, memasak nasi, merapikan tempat tidur, mengikat tali sepatu, mengambil air minum, memasang baju, dsb. Tentu kegiatan-kegiatan tersebut juga harus disesuaikan dengan tingkat usianya dan sejauh mana pada tingkatan usianya tersebut ia mampu melakukan kegiatan tersebut dengan baik. Anak yang mandiri adalah anak yang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut dengan penuh keterbukaan, tanpa unsur paksaan. Dengan demikian, kemandirian yang dimaksud pada diri anak adalah suatu keadaan di mana anak pada masing-masing rentang usianya ia mampu melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dan juga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Selain itu, dalam melakukannya ia juga tidak mendapat tekanan dari siapapun juga atau dengan kata lain ia melakukan kegiatan-kegiatan tersebut atas keinginan dan kesadaran dari dirinya sendiri. 

Jika proses pendidikan awal yang diberikan orangtua kepada anak dalam melatih kemandiriannya ini berhasil dengan baik, maka dengan sendirinya anak akan siap menerima sejumlah tugas dan tanggungjawabnya yang lebih besar di lingkungan masyarakat maupun lingkungan sekolah. Di lingkungan masyarakat tiap-tiap anak juga akan mendapatkan pengajaran, pembimbingan dan pelatihan dari masyarakat itu sendiri, misalnya dari tokoh agama atau kepala desa. Demikian halnya ketika mereka memasuki lingkungan sekolah, mereka akan menemui kegiatan pengajaran, pembimbingan dan pelatihan dari tenaga pengajar, pembimbing dan pelatih secara profesional. Inilah yang disebut dengan kegiatan pendidikan formal, karena semua kegiatan tersebut dilakukan secara terjadwal dan terprogram.

Dengan demikian, dengan mengalami tiga konteks lingkungan pendidikan di atas dengan baik, maka diyakini tiap-tiap anak akan menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan kelak ketika sudah dewasa, mereka akan menggunakan pengalamannya tersebut dalam melaksanakan setiap tugas dan tanggungjawabnya dan juga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengalaman latihan tersebut juga hendaknya diberikan orangtua kepada anak secara sadar dan terbuka, tanpa unsur paksaan, sehingga perhatian dan pendampingan yang diberikan kepada anak sungguh merupakan bentuk keikhlasan dan ketulusan serta cinta orangtua kepada anak.

 

Sumber Bacaan:

Labaketoy, Amandus Tena. 2008. Tingkat Kebiasaan Belajar Siswa Dalam Pelajaran Ekonomi Para Siswa Kelas XI Program IPS SMA BOPKRI 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008 (Skripsi). Yogyakarta: Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.    

Perihal Amandus Tena Labaketoy
Aku adalah seorang manusia biasa yang ingin terus belajar sampai akhir hayatku....

One Response to Menanamkan Kemandirian Sejak Dini Pada Diri Anak Melalui Kegiatan Pendidikan

  1. Rachmad mengatakan:

    wah..
    blog anda sangat menarik..🙂
    kunjungi ya..
    http://punzjrs24.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: