Peranan Guru Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa

Metode pemberian tugas atau diskusi kelompok dapat merangsang rasa ingin tahu dan menumbuhkan minatnya pada sesuatu hal yang ia pelajari. Sumber gambar: http://www.google.co.id

Guru sebagai seoarang pendidik yang hampir setiap hari bersama dengan siswa, tentu sering mengeluhkan kondisi siswanya yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah (PR), tidak mau mendengarkan penjelasan yang disampaikan kepadanya, mengobrol dengan teman terdekat pada saat guru menjelaskan materi, sering membolos, tidak mau melakukan kegiatan pembelajaran atau kalau pun mau melakukannya, siswa yang bersangkutan tidak begitu bersemangat, dan gejala-gejala perilaku siswa lainnya. Apa yang dikeluhkan ini bisa jadi sebagai pertanda bahwa anak didik kita sedang mengalami penurunan minat belajar.

Sebagaimana diketahui bahwa peranan minat sangat besar pengaruhnya terhadap kemauan seseorang dalam menerima dan melakukan suatu perbuatan. Demikian halnya, jika minat belajar siswa sudah/mulai menurun, maka dapat dipastikan siswa yang bersangkutan kurang antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan belajar, baik kegiatan belajar yang dilakukan di dalam kelas, maupun kegiatan belajar yang dilakukan di luar kelas (di rumah). Keluhan-keluhan para guru di atas hanya sebagian kecil saja yang nampak dari perilaku siswa. Jika keadaan tersebut berlangsung secara terus-menerus dan berlangsung cukup lama dalam diri siswa, maka akan mempengaruhi efektifitas kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, mutu pendidikan pada sekolah tertentu atau output yang dihasilkannya dan keutuhan perkembangan diri siswa itu sendiri.

Minat merupakan rasa ketertarikan seseorang terhadap sesuatu hal, baik itu benda, objek atau terhadap manusia itu sendiri. Dalam kegiatan belajar, minat siswa terhadap kegiatan belajar adalah ketertarikan, kemauan dan kesediaan siswa melakukan setiap kegiatan pembelajaran, baik kegiatan belajar yang dilakukan siswa di dalam kelas, maupun kegiatan belajar yang dilakukan siswa di luar kelas (di rumah). Dengan demikian minat menjadi hal yang mendasar yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang ia senangi.

Dari pengertian minat di atas jelas bahwa seseorang yang memiliki minat terhadap sesuatu akan menyenangi dan menerima sesuatu tersebut. Minat tidak diperoleh melalui bawaan sejak lahir. Minat seseorang terhadap sesuatu tumbuh dan berkembang melalui pengalaman dan persepsinya terhadap suatu objek. Dari pengalaman itu ia menilai dan menentukan sikap menerima atau menolak. Dengan demikian, guru sebagai pendidik hendaknya dapat memberikan suatu pengalaman belajar yang dapat membuat dan menumbuhkan minatnya terhadap seluruh kegiatan pendidikan, yaitu kegiatan pengajaran, pembimbingan dan kegiatan pelatihan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Yang harus dilakukan adalah guru membantu anak didiknya untuk meningkatkan kembali minat belajar anak didiknya yang mulai/sudah menurun itu. Hal itu dapat diupayakan dengan cara:

  1. Guru membantu siswa menyadari komitmen awal atau motivasi siswa bersekolah. Dengan membantu siswa menyadari kembali komitmen awalnya bersekolah, siswa akan teringat kembali dengan komitmen awalnya tersebut. Umban balik yang diharapkan adalah siswa mau kembali pada komitmen awalnya tersebut.
  2. Guru menggunakan metode mengajar yang variatif dan inovatif. Metode mengajar guru yang monoton dapat membuat siswa bosan dan jenuh dengan metode tersebut, sehingga dapat berpotensi membuat siswa menolak pengalaman belajar yang mereka terima itu. Guru yang mengajar dengan menerapkan metode mengajar yang bervariatif dan inovatif dapat merangsang siswa terlibat dengan kegiatan yang mereka alami sehingga tidak membuatnya bosan dan jenuh.
  3. Guru melakukan pendekatan personal  pada anak didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mewawancarai siswa yang bersangkutan, mengajaknya berbicara. Dengan cara demikian guru dapat mengenal lebih dekat anak didiknya, dapat memahaminya, siswa pun merasa diperhatikan.
  4. Guru perlu memahami gaya belajar masing-masing peserta didiknya dan diharapkan guru dapat menyesuaikan dengan gaya belajar mereka. Pilih metode mengajar yang sesuai dengan karakter dan kondisi kelompok.
  5. Guru juga hendaknya perlu memberikan “kebebasan” yang terkontrol bagi para peserta didiknya untuk melakukan “eksperimen” guna memahami tujuan dari setiap mata pelajaran tersebut. Hal ini dapat merangsang rasa ingin tahu siswa akan ilmu yang mereka pelajari itu.

Berhasil atau tidaknya ini tergantung pada ketulusan guru itu sendiri dalam membantu perkembangan peserta didiknya. Semoga ketulusan itu selalu menjiwai diri kita sebagai seorang pendidik di lingkungan pendidikan formal (terutama di sekolah) agar semua anak yang kita didik dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.

Perihal Amandus Tena Labaketoy
Aku adalah seorang manusia biasa yang ingin terus belajar sampai akhir hayatku....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: