Menggunakan “Cinta” Dalam Kegiatan Belajar

"Cinta" dapat membantu kita menguasai tujuan dari mata pelajaran yang kita pelajari. Sumber gambar: http://www.google.co.id

Dalam kegiatan belajarnya di sekolah, siswa memperoleh sejumlah pengalaman belajar dari disiplin ilmu yang berbeda-beda. Pengalaman belajar ini harus dialami tiap-tiap siswa, terlepas ia menyukainya atau tidak. Pengalaman belajar yang harus dilalui inilah yang disebut dengan kurikulum, yaitu sejumlah pengalaman belajar yang harus dilalui tiap-tiap siswa pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu sampai ia dinyatakan tamat dan lulus dari jenjang dan jenis pendidikan tersebut, yang dibuktikan dengan ijazah. Kurikulum atau pengalaman belajar ini secara nyata mereka peroleh dari sejumlah mata pelajaran yang ada pada masing-masing jenis dan jenjang pendidikan tersebut dan melalui kegiatan-kegiatan pendidikan, yaitu pengajaran, pembimbingan dan pelatihan. Masing-masing jenis dan jenjang pendidikan tersebut jumlah kurikulumnya berbeda-beda, demikian halnya dengan disiplin ilmunya (terutama kelompok SMK). Struktur kurikulumnya tidak akan saya bahas di sini.

Mengingat kurikulum tersebut semuanya harus dialami tiap-tiap siswa, maka konsekuensinya siswa harus mempelajari setiap materi mata pelajaran tersebut agar tujuannya dapat dikuasai dengan baik. Namun, kenyataan di lapangan (sekolah) masih banyak siswa yang “pilih kasih” dalam mempelajari materi mata pelajaran tersebut, sehingga kompetensi dan tujuan dari mata pelajaran tersebut tidak dicapai dan dikuasai dengan baik dan merata oleh siswa. Misalnya ada siswa yang hanya suka dan bersemangat mempelajari ilmu-ilmu eksakta/IPA saja, sementara ilmu-ilmu lainnya tidak begitu di sukai/ditekuni, atau ada siswa yang hanya menyukai disiplin ilmu bahasa atau IPS saja. Memang diakui bahwa faktor minat juga berpengaruh dalam penerimaan mata pelajaran ini. Akan tetapi totalitas dalam mempelajari tiap-tiap mata pelajaran ini harus dimiliki oleh setiap siswa demi tercapainya standar kompetensi dan tujuan dari mata pelajaran tersebut. Hal ini harus dikuasai sebab kurikulum yang ada pada jenjang dan jenis pendidikan tersebut sudah diprogramkan secara nasional dan menjadi konsekuensi dari pilihan siswa itu sendiri. Lalu apa yang harus dilakukan siswa agar dirinya dapat menguasai kompetensi dan tujuan dari setiap mata pelajaran tersebut?

Yang perlu dilakukan dan diupayakan siswa adalah menanamkan “cinta” dalam setiap kegiatan belajarnya. Cinta bukanlah perasaan-perasaan menyenangkan saja. “Cinta adalah suatu keputusan dan keterlibatan” (Powell, 2001 : 56). Menurutnya kalau cinta dianggap perasaan, maka akan membuatnya tidak mantap dan selalu berubah-ubah, dengan kata lain dapat membuat orang menjadi bosan dan ingin memilih sesuatu yang baru. Cinta yang dimaksud di sini adalah cinta seorang pelajar atau siswa yang total pada kegiatan belajarnya, yang bukan berlandaskan suka atau tidak suka.

Konsep cinta yang diutarakan Powell di atas kiranya juga perlu dimiliki tiap-tiap siswa dalam rangka mempelajari mata pelajaran di sekolah maupun pada saat ia mempelajarinya di rumah. Dengan memiliki cinta, siswa akan menyadari bahwa kegiatan belajarnya tersebut merupakan sebuah keputusan yang tepat dan merupakan bentuk keterlibatannya secara total dalam rangka mencapai tujuan dari setiap mata pelajaran yang diperolehnya tersebut pada masing-masing jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Selain itu, dengan memiliki cinta pada kegiatan belajarnya, siswa akan semakin total atau mengarahkan perhatiannya secara penuh dalam setiap kegiatan belajarnya, baik yang dilakukan/dialaminya di sekolah maupun yang dilakukan di rumah. Ia juga akan menerima setiap kegiatan tersebut dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Oleh karena itu, guru, orangtua dan masyarkat juga diharapkan ambil bagian dalam hal ini dengan memberikan dukungan dan pemahaman atas tindakan dan keputusannya ini.

Dengan demikian, sikap “pilih kasihnya” terhadap kurikulum yang diterimanya pada masing-masing jenjang maupun jenis pendidikan tertentu lambat laun akan menjadi  sebuah penerimaan yang penuh kesadaran dan totalitas tinggi dalam melaksanakannya.

 

Sumber Bacaan:

Powell, John. 2001. Terj. Cinta Tak Bersyarat. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.       

Perihal Amandus Tena Labaketoy
Aku adalah seorang manusia biasa yang ingin terus belajar sampai akhir hayatku....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: